Judul: Jurnalisme Kartografi dan Mitos-mitos Seputar Menulis
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian LAIN / OTHER.
Nama & E-mail (Penulis): Drs. Arief Achmad Msp., M.Pd.
Saya Guru di SMA Negeri 21 Bandung
Topik: JURNALISTIK/KARYA TULIS
Tanggal: 23 Juni 2007
"JURNALISME KARTOGRAFI DAN MITOS-MITOS SEPUTAR MENULIS"
Oleh: Arief Achmad*)
Selama dua hari, Sabtu-Minggu, 9-10 Juni 2007, bertempat di kampus Politeknik Pos (Poltekpos) Indonesia, Bandung, diselenggarakan pelatihan "Teknologi Informasi dan Penulisan Ilmiah bagi Guru-guru SMA dan Madrasah Aliyah se-Bandung dan Cimahi". Pelatihan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dies natalis keenam Poltekpos Indonesia. Penulis termasuk salah satu peserta pelatihan tersebut.
Selain menampilkan pembicara dari internal kampus, dalam pelatihan tersebut juga menghadirkan dua orang praktisi, yaitu Dedi Muhtadi (Kepala Biro KOMPAS Jawa Barat) dan Budhiana Kartawijaya (Redaktur Opini Pikiran Rakyat).
Dari sekian orang pemateri, tak pelak lagi dua praktisi inilah yang banyak menggugah rasa ingin tahu (curiosity) peserta tentang seluk-beluk dunia tulis-menulis, khususnya jurnalistik. Terlebih lagi keduanya yang sudah banyak makan asam-garam di bidangnya itu berhasil mengangkat hal ihwal seputar penulisan terutama yang bersifat praktis.
Jurnalisme Kartografi
Bagi Dedi Muhtadi, jurnalisme tak ubahnya seperti kartografi modern. Ia menghasilkan sebuah peta bagi warga untuk mengambil keputusan tentang kehidupan mereka sendiri. Itulah manfaat dan alasan ekonomi kehadiran jurnalisme.
Konsep kartografi ini membantu menjelaskan apa yang menjadi tanggung jawab liputan jurnalistik. Seperti halnya peta, nilai jurnalisme tergantung pada kelengkapan dan proporsionalitas. Reporter yang menghabiskan waktu untuk pengadilan sensasional atau skandal selebritas dengan tidak sewajarnya, adalah seperti kartografer yang menggambar Inggris atau Spanyol dengan ukuran Greenland yang lebih populer. Begitu pula, reporter yang menulis apa yang ia yakini benar, tanpa sungguh-sungguh mengecek terlebih dahulu, layaknya sama dengan seniman yang menggambar monster laut di ujung jauh dunia baru.
Akhirnya, jurnalisme yang meninggalkan begitu banyak berita yang bergulir, ibarat peta yang gagal memberi tahu kepada orang yang bepergian semua jalur lain yang ada di sepanjang perjalanan itu.
Di bagian lain, Dedi Muhtadi juga mengemukakan kriteria umum artikel KOMPAS dan menjelaskan mengapa sebuah artikel ditolak. Sesi ini banyak mengundang rasa penasaran peserta, terlebih bagi mereka yang pernah ditolak artikelnya. Diskusi interaktif dengan nara sumber menghangat di sini hingga para peserta terpuaskan kepenasarannya.
Mitos-mitos Seputar Menulis dan Writers`Blocking
Budhiana Kartawijaya, antara lain mengusung mitos-mitos seputar menulis dan beberapa tips mengatasi hambatan dalam menulis (writers`blocking).
Menurutnya, terdapat tujuh mitos seputar menulis dan realitas sesungguhnya. Pertama, "saya bukan penulis" (realitas sesungguhnya, siapa pun yang bisa berpikir dan menulis, dia adalah penulis). Kedua, "saya bukan penulis hebat" (tidak ada penulis hebat atau jelek, yang ada adalah penulis lanjut dan penulis pemula). Ketiga, "penulis pemula sulit mengawali tulisan/karangan" (bahkan sastrawan besar pun mengalami kesulitan mengawali kalimat). Keempat, "yang ditulis harus hal-hal yang hebat" (banyak tulisan hebat yang berangkat dari hal-hal sederhana). Kelima, "pengalaman saya tidak ada yang hebat, sehingga tidak ada manfaatnya ditulis" (banyak pengalaman individu yang unik, yang bisa mengundang kekaguman pembaca). Keenam, "tulisan harus perfeksionis" (tidak ada tulisan yang sempurna, bahkan tulisan sastrawan besar selalu mengundang kritik). Ketujuh, "takut ditertawakan karena idenya tidak orisinal" (tidak ada orang yang berpikir orisinal, pemikiran orang selalu diwarnai pemikiran orang lain).
Mitos-mitos inilah yang menyebabkan writers`blocking, yakni proses menulis menjadi macet di awal, di tengah, dan di akhir tulisan. Lantas, bagaimana mengatasinya?
Lakukan pergeseran mental (shift mental) yang berpegang pada realitas, bukan pada mitos. Seseorang yang mengalami writing-block bukan karena tidak bisa menulis, namun mereka putus asa tidak bisa menulis secara sempurna. Padamkan dulu mental kritis saat menulis. Ada waktunya untuk mengkritisi, yakni ketika seseorang melakukan proses editing.
Tips Mengatasi Writers`Blocking
Budhiana juga mengajukan tujuh buah tips untuk mengatasi writers`blocking. Pertama, tetapkan jadwal menulis, apakah mau pagi, siang, sore, atau malam. Meski ada hambatan mental (mental block), jika kehadiran fisik di depan komputer sudah rutin, maka pikiran dan mood pun akan hadir bersamaan. Jangan lupa, tetapkan panjang tulisan (untuk pemula, cukup 500 kata atau satu lembar). Kedua, jadikan menulis sebagai kegiatan rutin bukan sebagai kegiatan seni yang tergantung mood. Ketiga, ketika akan mengawali tulisan, tiba-tiba macet, tuliskan perasaan anda. Begitu juga ketika kemacetan terjadi di tengah penulisan. Keempat, menulis bebas tanpa tujuan (freewriting). Sediakan waktu sekitar 10-20 menit untuk menulis apa saja. Jangan pikirkan editing, tanda baca (titik, koma, dll.), atau diksi (pilihan kosakata). Tulis dengan pena, tanpa melihat paragraf sebelumnya, atau mengetik di komputer dengan menutup layar komputer dengan kain. Kelima, lakukanlah brainstorming, yakni seperti freewriting, namun brainstorming menuliskan ide-ide yang sudah terarah. Keenam, kalau sudah betul-betul mentok, beristirahatlah (break)! Lakukan aktivitas lain seperti minum, berjalan di taman, menggeliatkan badan, dsb. Setelah itu, kembali ke laptop! Terakhir, adalah lebih baik untuk memiliki mitra menulis (writing partner), apakah ia itu suami, istri, anak, atau teman. Mitra menulis akan berguna untuk saling mengingatkan soal deadline, mendiskusikan masalah blocking, dll.
Jadi, blocking tidak perlu ditakuti, malah harus disyukuri dan dihadapi. Blocking adalah pertanda awal proses kreatif karena ia menandakan otak kita tengah bekerja. Blocking bak wanita yang tengah bersalin. Karena biar bagaimana pun jua, sebuah ide memerlukan waktu untuk dilahirkan.
Perlu Tindak Lanjut
Sesungguhnya esensi sebuah pelatihan, selain sebagai sebuah pencerahan (enlightment) bagi pesertanya, juga merupakan wahana sharing (saling berbagi) baik berupa ide, gagasan, pemikiran maupun pengalaman empirik di antara komunitas yang terlibat di dalamnya (peserta, nara sumber, dan/atau panitia penyelenggara).
Peserta pelatihan, sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, yang notabene adalah para guru perlu menangkap peluang tersebut, terutama yang berkaitan dengan penulisan. Sebab, bukankah salah satu kompetensi profesional guru adalah melakukan kegiatan pengembangan profesi, diantaranya membuat karya tulis.
Dengan menulis sebuah artikel di media cetak, seperti di KOMPAS atau PR misalnya, seorang guru, berdasarkan SK Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 Tahun 1993, berhak memperoleh dua angka kredit (kum). Kalau akumulasi kum ini dapat mencapai 12 angka kredit, maka bagi guru-guru PNS golongan IV/a (guru pembina) ke atas, pada hakikatnya secara normatif sudah dapat naik pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi.
Oleh sebab itu, setelah pelatihan tadi perlu ada tindak lanjut bagi para pesertanya, yaitu menulis!.
*)Penulis, guru SMAN 21 Bandung; Ketua Asosiasi Guru Penulis-PGRI Jabar.
Saya Drs. Arief Achmad Msp., M.Pd. setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
|
CATATAN: Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
|
|